Monday, June 15, 2009

Belajar Menjadi Pribadi Berkarisma

dimuat di Koran Seputar Indonesia edisi cetak Sabtu, 13 Juni 2009
versi online-nya bisa dilihat di sini
====================================================================

Judul : Charisma Effect: Agar Siapa pun Terkesima dan Terkesan kepada Anda
Penulis : Andrew Leigh
Penerbit : PT Ufuk Publishing House, 2009
Tebal Buku : xxviii + 305 halaman


INGATKAH kita ketika nama Al Gore tenggelam setelah kalah bertarung memperebutkan pucuk kepemimpinan tertinggi Amerika Serikat? Status Al Gore sebagai mantan Wakil Presiden AS tidak mampu menahan arus popularitas kemenangan George W Bush. Meskipun begitu, bukan seorang pemimpin yang besar jika Al Gore larut dalam kekalahannya. Terbukti kemudian Al Gore membuat dunia kagum melalui presentasinya dan kampanyenya yang massif tentang global warming, bahkan menjadikannya meraih nobel. Kemampuan Al Gore ini muncul karena dia memiliki kepribadian karismatis. Efek karisma Al Gore sudah mencapai level tinggi yang hanya bisa diraih oleh manusia dengan tingkat kesadaran jati diri yang tinggi. Selain itu, terlihat bahwa Al Gore juga berhasil membangun chemistry antara dia dan dunia.

Kemampuan Al Gore dalam membangun karisma tidak sertamerta lahir dengan sendirinya, tetapi dibentuk oleh proses panjang. Buku Charisma Effect karya Andrew Leigh berusaha menjelaskan pembentukan karisma tersebut. Menurut Leigh, karisma dibentuk oleh tujuan (aim), jati diri (be your self), dan chemistry sebagai syarat utama. Ketika ketiga hal ini bisa dipadukan dengan baik, pengaruh pribadi kita akan timbul dan menyisakan kesan yang kuat di benak orang lain di mana kemudian memengaruhi mereka secara emosional, fisik, dan intelektual, termasuk sikap dan perilaku orang lain (hal xii). Pengaruh inilah yang disebut dengan karisma.

Menurut teori, komunikasi diartikan sebagai transmisi informasi dari satu pihak ke pihak lain. Di dalam pelaksanaannya, komunikasi yang baik adalah ketika mampu menjamin tujuan komunikasi tercapai dengan cara yang efektif. Inilah yang dibahas Leigh di dalam bab Tujuan (aim). Di sini bahkan dijelaskan tujuan dirinya membuat buku Charisma Effect adalah “menunjukkan kepada pembaca bahwa membangun efek karisma bukanlah hal yang mustahil”. Kejelasan tujuan adalah hal mendasar yang harus dibangun di awal. Dengan begitu, kita dapat efektif membangun komunikasi dengan jaminan bahwa kita berada pada jalur yang tepat dalam setiap langkah komunikasi yang kita ambil.

Tujuan yang sudah ditetapkan di awal akan semakin mudah kita capai ketika itu dilakukan oleh diri kita yang sebenarnya (be your self). Dengan menjadi diri kita yang utuh, tujuan komunikasi akan menyatu dengan segala tindak tanduk kita yang secara alamiah akan mempercepat gerak kita menuju tujuan yang telah ditetapkan. Memang, kita tidak dapat menghindar dari pengaruh lingkungan saat ini yang semakin membuat kita jauh dari diri kita yang asli. Namun, ketika kita bertekad untuk meraih tujuan, tidak ada kata “tidak” untuk menjadi diri sendiri.

Orang-orang dengan efek karisma yang kuat memiliki sebuah naluri alamiah ketika harus berbicara dengan tenang,lantang,atau diam sama sekali. Saat kita memutuskan untuk diam, kita harus memikirkan efek yang ditimbulkan dari sikap diam itu pada tujuan komunikasi kita, apakah akan membantu atau malah akan menghambat? Ketika kita memutuskan diam untuk memberikan kesempatan bicara kepada orang lain, jelas diam itu telah kita manfaatkan cara positif. Kita memberikan jeda komunikasi sekaligus memberikan penghargaan terhadap lawan bicara untuk dapat memikirkan argumentasi berikutnya secara masak. Akhirnya, sikap diam ini akan meningkatkan karisma kita di depan orang itu.

Berbeda dengan kebiasaan politisi kita yang selalu reaktif, memotong pembicaraan lawan, dan emosional ketika sedang berbicara dengan orang lain, terutama dengan lawan politik. Satu hal yang memprihatinkan dan jauh dari sikap seorang yang berkarisma. Karena itu, politisi kita miskin secara visi dan lemah karisma.

Kemampuan untuk mengembangkan pribadi yang berkarisma dibangun bersama dengan chemistry antara kita dan lawan bicara. Inti dari chemistry terletak pada perhatian dan ketulusan. Dengan memberikan perhatian penuh,kita membuat lawan bicara merasa nyaman dan dihormati. Pusatkan perhatian kita padanya, lalu berikan respons positif dan antusias. Seperti yang diutarakan Leigh, “Perhatikanlah kata-kata penting yang sepertinya belum ia ucapkan, lalu kita ingatkan.” Selanjutnya, kita akan menemukan jalan lebar untuk melanjutkan komunikasi antara kita dan dia. Jika semua ini kita lakukan dengan tulus, chemistry ini akan berubah wujud menjadi karisma yang selamanya menempel pada tubuh kita.

Secara umum buku ini pun dibagi menjadi tiga bab utama yang menjelaskan secara berurutan tiga kata kunci tadi. Namun, adanya keterkaitan yang tidak dapat dihindari antara aim, be your self, dan chemistry membuat buku ini tidak dapat menghindar dari pembahasan yang saling silang antarsatu kata kunci dengan yang lainnya.

Hal ini sebuah kelebihan sekaligus kekurangan tersendiri. Dikatakan kelebihan karena ini dapat membantu pembaca dalam mencari celah keterhubungan antarsatu kata kunci dengan yang lainnya. Dikatakan kekurangan karena pembahasan menjadi terkesan tumpang tindih dan berulang- ulang. Bagaimanapun juga, Charisma Effect merupakan buku psikologi dengan banyak latihan praktis yang sangat memudahkan pembaca. Di dalamnya juga terdapat berbagai macam kisah pendek inspiratif yang sederhana nan substantif. Latihan-latihan tersebut sangat berguna untuk membangun efek karisma untuk kita semua. Karena itu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini sangatlah tepat dibaca oleh mereka yang ingin meningkatkan efek karismanya sehingga kekurangan tadi tidak membuat Charisma Effect menjadi kehilangan “efek karismanya”, bukan?



Muhammad Mishbah
Asisten Riset Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan (CSDS) Pascasarjana UI,
Mahasiswa Ilmu Komputer UI

Saturday, June 13, 2009

EDO Abang Jakarta Barat 2009

Seneng banget gw sebagai temennya!! selamat buat sahabat EDO!!


Ahmad Murtadho (edo), Juara 1 Abang Jakarta Barat 2009




mishbah & edo



Alhamdulillah..

Friday, June 5, 2009

dimana posisimu?

kalau tiket masuk surga terbatas
kalau manusia di dunia ini sudah mencapai trilyunan
kalau setiap hari jutaan bayi lahir mengambil jatah tiket masuk surga
kalau setiap hari ribuan syuhada meninggal dan mengambil jatah tiket surga
kalau setiap hari kita melakukan dosa

seandainya kita tahu saat ini kita berada di antrian ke berapa
seandainya kita tahu apakah kita masih mungkin masuk surga atau tidak
seandainya saya tahu berada diperingkat ke-berapa milyar-kah saya, ke-berapa trilyun-kah

akankah saya lebih banyak beribadah?

Thursday, May 14, 2009

Katanya Kencing itu Mudah


Kencing, mengeluarkan urin dari tubuh melalui organ pengeluaran. Perasaan ingin kencing disebut kebelet. Entah sebenarnya kebelet itu perasaan jenis apa. Kebelet itu bukan sakit, bukan pegal, bukan manis, asam, asin, atau pahit. Kebelet juga bukan ngantuk. Yang jelas, saat kebelet sudah terpuaskan, artinya kita kencing, pasti badan merasa segar, enteng, nyaman.

Kencing itu mudah. Saat perasaan kebelet datang, kita tinggal mencari tempat yang tepat, kencing di sana. Pastinya tempat yang paling sering buat kencing adalah kamar mandi, meskipun kencing sering juga dilakukan di kali, balik semak, balik pohon, trotoar, atau tembok rumah.

Untuk masalah kecing, kita bisa melupakan segala hal sekadar untuk memenuhi hasrat yang satu ini. Kalau udah kebelet, semua hal selain kecing itu menjadi nomor dua! Malah, kadang kita sering berpikir pendek, bagaimana hasrat ini terpenuhi tanpa mempedulikan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kencing baik pada diri maupun lingkungan kita. Ketika kita kencing di balik pohon, apakah kita pernah berpikir kalau kencing itu akan membuat orang-orang yang lewat pohon itu merasa tidak nyaman? Ketika kita kencing di tembok rumah orang, apakah kita pernah berpikir bahwa pasti orang yang punya tembok itu merasa jijik karena temboknya bau pesing?

Sekarang kita masuk bagian paling sensitif.
Entah hal ini hanya saya yang merasakan, atau bahkan semua orang di dunia juga merasakan, meskipun mereka semua malu mengatakannya, bahwa kencing itu sungguh-sungguh sulit!! Kencing di manapun, sangat sulit!! Percayalah!

salah satu kewajiban setelah kencing adalah bersuci, thaharah ejaan arabnya. Bersuci wajib kita lakukan agar shalat kita sah. Meskipun nantinya kita berwudhu, wudhu itu tidak akan sah kalau kita belum bersuci, dalam hal ini bersuci setelah kencing. Tapi, terutama bagi laki-laki, pernah tidak kita tidak bersuci (a.k.a cebok) setelah kencing? What a disaster!! Kecuali memang situasi tidak memungkinkan dan kita tidak sedang memiliki tanggungan kewajiban semisal shalat, mungkin hal itu diperbolehkan. Tapi jangan salah, untuk keadaan normal pun masih ada orang yang melakukan hal memalukan ini. Silakan bertanya pada diri sendiri. Jangan anggap sepele masalah kencing ini. Di dalam hadist disebutkan kalau kebanyakan laki-laki masuk neraka karena menyepelekan najis air kencing.

Seandainya kita selalu kencing di kamar mandi, mungkin kita berpikir bahwa bersuci itu sudah hal alami yang pasti kita lakukan. Kesimpulannya, bersuci itu mudah. Awas!! Masalah kencing bukan hanya masalah bersuci lantas kita suci. Bagaimana dengan celana/rok yang kita pakai? Apakah kita cukup yakin kalau celana/rok kita juga suci? Apakah kita yakin bahwa tidak ada air cipratan kencing yang terkena celana/rok kita? Bahkan, kalau mau lebih dalam lagi, apakah kita yakin bahwa tidak ada air kencing yang menetes di celana dalam kita? Inilah bagian tersulitnya.
Kita tahu lantai kamar mandi itu basah. Sayangnya, terkadang kita memakai celana/rok panjang. Ketika kita kencing dan lalu bersuci, terlalu banyak kemungkinan celana/rok kita akan terciprat air dari lantai kamar mandi. Bukankah air cipratan dari lantai kamar mandi juga najis? Karena semua najis yang kita hasilkan di dalam kamar mandi pasti dirasakan oleh lantai kamar mandi. Lalu, setelah itu, kita dengan santai pergi shalat. Astaghfirullah. Semoga itu tidak terjadi pada diri kita.

Sayangnya hal-hal “sepele” seperti ini sangat jarang menjadi perhatian. Kita selalu berpikir mudah, tanpa melihat sesuatu yang “sepele” tadi namun bermakna besar!! Sungguh sulit menjaga celana agar tidak terkena cipratan air. Sungguh sulit menjaga agar tidak ada tetasan air kencing di celana.
Saya hanya ingin mengingatkan.

Monday, April 13, 2009

Diskusi LMI - Haluan Baru Menghadapi Pemilu Legislatif 2009

Ketiga kalinya penulis mengikuti diskusi Lingkar Muda Indonesia. Tema diskusi kali ini adalah “Haluan Baru menghadapi Pemilu Legislatif 2009”. Diskusi diisi oleh Kacung Marijan, Bilver Singh, Budi Hardiman, Arbi Sanit, serta Adi Sutcipto. Sebagai moderator, dipilih Rosiana Silalahi. Berikut adalah rangkuman dari salah satu makalah yang dibawakan oleh pembicara.


Pemilu, Massa, dan Demokrasi Deliberatif – F. Budi Hardiman

“Tidak tahu betul siapa yang seharusnya dipilih, antara lain karena banyaknya partai, banyaknya caleg tak dkenal, rumitnya prosedur, atau tidak jelasnya program – voters pun mencontreng citra yang paling menggores ingatannya. Peristiwa itu lalu disebut demokrasi, sementara yang terjadi sesungguhnya boleh jadi adalah memberi lahan-lahan matapencarian baru bagi mereka yang mencari untung dari transaksi yang disebut pemilu itu” – F. Budi Hardiman


Konsep demokrasi tidak seharusnya dibuat kerdil dengan sebuah sistem pemilu yang teramat polos namun berbahaya: memilih wakil rakyat secara langsung, tidak kenal siapa yang dipilih, dan yang dipilih akan langsung menjadi wakil pemilih selama lima tahun. Bahaya ketika kita memilih wakil rakyat bukan berdasarkan observasi nyata, melainkan hanya karena iklan atau bahkan kepentingan pragmatis semisal suap atau mencari nafkah. Tidak ada legitimasi yang kuat dari sistem yang seperti ini, karena pada dasarnya, menurut Rainer Forst, legitimasi kekuasaan harus mengandug proses-proses komunikasi politis warga Negara dalam ruang public untuk menguji atau merevisi kebijakan-kebijakan public. Hal ini barati ukuran dari legitimasi sebuah pemerintahan bukanlah hanya dari hasil pemilu, tetapi juga dari tingkat komunikasi politik rakyat sebelum, saat, dan sesudah pemerintah yang baru.

Di dalam dunia politik, rakyat bukanlah sebuah objek, atau sekadar kumpulan massa. Masyarakat adalah aktor dari demokrasi yang dibangun, atau biasa disebut kedaulatan rakyat. Namun, yang kita lihat hingga sekarang, para politisi masih menganggap rakyat adalah kumpulan massa, objek dari politik. Sementara kursi jabatan adalah tujuan dari politik itu sendiri, bukannya kesejahteraan rakyat. Jadi, demokrasi yang terbentuk adalah demokrasi yang buta, dimana rakyat, yang seharusnya menjadi actor utama dan penentu kebijakan, malah dimanfaatkan sebagai fasilitas bantuan para politisi mencapai tujuan politiknya. Misi-misi yang dijalankan parpol bukan bertujuan untuk mewadahi aspirasi politik masyarakat, namun bertujuan untuk memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Semua hal telah dimasukkan dalam ranah pragmatisme para politisi.



Demokrasi yang kita jalani saat ini memiliki terlalu banyak kelemahan. Minimnya keterlibatan rakyat dalam komunikasi politik adalah salah satunya. Demokrasi yang dibangun bukan berdasarkan kesadaran masyarakat atas konflik serta kejadian yang terjadi antar pelaku politik, namun lebih kepada ‘siapa memilih apa’, itu saja. Hal ini tentunya tidak dapat dibiarkan terlalu lama. Jika dibiarkan seperti ini, maka demokrasi tidak lebih dari sebuah arena perebutan suara, bukan suatu proses menuju masyarakat yang dewasa, bangsa yang dewasa. Perlu ada perubahan konsep demokrasi sehingga bersifat deliberatif. Deliberation adalah proses menimbang, memilah, berkomunikasi serta berargumentasi di antara para warga Negara dalam civil society untuk pengambilan kebijakan public (FBH: 2009). Dengan konsep deliberatif, komunikasi politik muncul, kedewasaan berpikirpun hadir. Bukan hanya pada level atas, namun juga pada level masyarakat bawah.

Deliberasi politik dimulai dari level terbawah, yakni level bertetangga. Bagaimana masyarakat terbiasa terlibat dalam pengambilan keputusan publik. Selanjutnya perilaku ini akan terbawa hingga level atas, dan atasnya. Warga menjadi terbiasa terlibat, atau paling tidak, peduli terhadap pengambilan keputusan publik dari level RT, RW, lurah, hingga keputusan tingkat parlementer. Peraturan serta undang-undang yang dibuat autoritas akan mendapat perhatian masyarakat. Dengan begitu, babak baru demokrasi akan terbangun, demokrasi yang sebenarnya. Demokrasi deliberatif yang menginginkan adanya legitimasi dari para pelakunya. Singkat kata, demokrasi deliberatif akan membawa masyarakat ke dalam kondisi yang sebenarnya dari makna frase ‘kedaulatan rakyat’.